Apakah pemaksaan kehendak orang tua terhadap anak itu termasuk “bully”?

March 22, 2008 at 12:46 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Sebenarnya waktu saya mendapat pertanyaan ini saya mengalami kesulitan untuk menjawabnya, saya sampai googling beberapa informasi mengenai “bully”.

Pada posting saya sebelumnya saya menyebutkan bahwa bully artinya mengganggu orang yang lemah, tetapi setelah saya googling, saya ingin menambahkan pengertian tersebut. Bully tidak sekedar mengganggu orang yang lemah saja, tetapi bully itu bisa didefinisikan seperti ini : perkataan atau tindakan yang memiliki kekuatan terhadap orang lain, kekuatan disini berupa ancaman/sikap mendominasi, intimidasi. Misalnya : mengatakan atau menulis sesuatu yang tidak sepantasnya, mengucilkan, membuat seseorang menjadi tidak nyaman/takut, memukul, menendang, membuat orang melakukan apa yang tidak diinginkan.

Jadi, menurut saya pemaksaan kehendak orang tua terhadap anaknya itu bisa termasuk dalam kategori “bully”.  Tetapi banyak sekali orang tua yang tidak sadar dalam melakukan hal tersebut, orang tua berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tersebut adalah untuk kebaikan anaknya. Kalau menurut saya sih sebaiknya hal seperti ini dibicarakan baik-baik karena saya yakin sekali bahwa orang tua tidak bermaksud melakukan “bully”, orang tua tidak sengaja melakukannya, mereka tidak tahu kalau hal seperti itu termasuk dalam “bully”.

Sebagai anak, cobalah untuk mendengarkan penjelasan yang orang tua berikan, pikirkan baik-baik apa yang telah dijelaskan oleh orang tua, usahakan berpikir dari segi orang tua juga supaya bisa lebih memahami maksud orang tua. Kalau memang tidak setuju dengan keinginan orang tua, ungkapkan keinginan anda dengan baik-baik dan berilah penjelasan yang tepat.  Sebagai orang tua, juga lakukanlah hal yang sama. Ingat kunci dari mengatasi masalah perbedaan pendapat seperti itu adalah dengan komunikasi dan tidak emosi.

Untuk orang tua, sebaiknya jangan memaksakan kehendak, lihat kondisi anak-anaknya juga, misalnya orang tua pingin sekali anaknya menjadi dokter,  mungkin selain membanggakan, orang tua juga berpikir bahwa masa depan anaknya akan cerah, tetapi anaknya sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadi dokter, mungkin juga kemampuannya tidak sampai segitu, sebaiknya jangan dipaksakan karena nantinya akan berakibat buruk terhadap anak, anak menjadi depresi, tertekan bahkan mungkin menjadi gila. Kalau anak sudah mengalami hal seperti ini tentunya yang terkena imbas nantinya juga orang tua.

Saran saya jika masih belum menemukan titik temu dalam komunikasi yang dilakukan, cobalah ambil jalan tengah seperti ini, misalnya anak diberi kesempatan untuk membuktikan keinginannya sesuai dengan alasan yang telah dikemukakan dengan jangka waktu tertentu. Jika tidak bisa membuktikan dalam jangka waktu tersebut, anak harus mendengarkan apa yang diinginkan orang tua. Dengan begini kan tidak ada yang namanya “bully” dan tidak ada anak yang menjadi depresi, tertekan :)

“Bully”???

March 20, 2008 at 10:37 am | In Uncategorized | 7 Comments

Apa itu “Bully”? “Bully” adalah kata dalam Bahasa Inggris yang artinya mengganggu orang yang lemah. Menurut saya, hal ini sering terjadi di beberapa sekolah dan biasanya anak yang diganggu tersebut tipenya pendiam dan penakut. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus tentunya akan mempengaruhi perkembangan mental anak yang diganggu, biasanya si anak akan menjadi minder. Bentuk “bully” ini bisa bermacam-macam, misalnya memaksa si anak untuk melakukan semua perintah dari teman-teman yang mengganggunya, meminta barang/uang terhadap si anak dengan paksa dan ancaman, dan lain-lain.

Solusi untuk anak-anak yang mengalami “bully”, menurut saya adalah mengajarkan anak tersebut untuk mampu “melawan” teman-teman yang mengganggunya. “Melawan” yang saya maksud disini adalah bukan dengan memakai cara kekerasan, tetapi membuat si anak belajar untuk menghadapi situasi seperti itu, bagaimana caranya si anak mampu mengatasi ketakutannya terhadap paksaan dan ancaman teman-teman yang mengganggunya. Jangan malah memindahkan anak tersebut ke sekolah yang lain hanya untuk menghindari teman-teman yang telah mengganggunya, karena hal itu tidak akan membuat anak tersebut menjadi lebih baik, malah akan membuatnya menjadi lebih buruk karena itu berarti telah mengajarkan si anak untuk menghindar dari masalah yang dihadapinya, lagipula belum tentu dengan berpindah sekolah dia tidak akan diganggu lagi oleh teman-teman di sekolah barunya.

Selain itu, si anak juga tidak akan bisa menjadi dewasa dengan menghindari masalah-masalahnya, si anak akan menjadi bergantung terhadap orang tuanya, padahal tidak selamanya orang tuanya dapat melindungi si anak. Menurut saya, seharusnya orang tua cukup memberikan dorongan, nasehat dan mengawasi dari jauh supaya si anak dapat berkembang dengan baik.

Semoga tips ini dapat membantu :)

Waspadai “Blind Spot” di Jalan Raya

March 19, 2008 at 11:19 am | In Uncategorized | 6 Comments

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, “blind spot” ini sering mengakibatkan kecelakaan di jalan raya. Dua kali saya mengalami musibah karena “blind spot”. Yang pertama terjadi pada tahun 2006, saat itu saya akan menyeberang jalan di perempatan Ngagel. Waktu itu, mobil sudah pada berhenti tapi tiba-tiba ada motor ngebut yang berada di jalur kiri, akhirnya saya tertabrak.

Yang kedua, terjadi tanggal 14 Maret lalu di Jl. Kutai, tepat di depan toko brownies, waktu itu saya bawa mobil dan berada di jalur paling kiri kemudian tiba-tiba ada motor yang memotong di depan mobil saya, seharusnya di jalan itu motor tidak boleh langsung belok masuk ke toko brownies (ada garis lurus di tengah-tengah), akhirnya saya menabrak motor itu.

Dari dua kejadian yang saya alami ini akhirnya saya mengambil kesimpulan, karena di kota Surabaya ini semakin padat lalu lintasnya, sebaiknya jaga emosi (jangan sampai tidak mau mengalah), taatilah peraturan yang ada di jalan raya, terutama untuk pengendara motor supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lagipula kalau sampai terjadi musibah seperti yang saya alami, yang rugi adalah diri sendiri, kalau jadi yang tertabrak akan mengalami sakit, kalau jadi yang menabrak akan mengganti rugi. Kemudian, untuk kendaraan yang berkecepatan rendah sebaiknya jangan berada di jalur kanan karena hal ini akan menyebabkan kendaraan-kendaraan lain yang ingin menyalip akan menyalip dari sebelah kiri, padahal kalau menyalip dari kiri itu sering terjadi yang namanya “blind spot” yang dapat menyebabkan kecelakaan terjadi. Kalau berada di jalur kiri jangan ngebut supaya kalau ada yang memotong, sempat untuk mengerem.

Semoga beberapa tips dari saya dapat berguna bagi pembaca :)

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.